Keblinger

Keblinger

Vol 2 Edisi 12 - TAKDIR MEMANG TAK PERNAH SALAH

Minggu, 23 September 2012
Seringkali orang berkata “ini sudah takdir” di saat mendapatkan sesuatu yang tidak menyenangkan hati. Namun ketika mendapat sesuai keinginan banyak yang menyatakan karena usaha yang dilakukan dan lupa bahwa itu pun sesungguhnya takdir... 

Edisi 12/Vol.II/2012/11 Sya’ban 1433 H
Sub Menu:



Salam


Seringkali orang berkata “ini sudah takdir” di saat mendapatkan sesuatu yang tidak menyenangkan hati. Namun ketika mendapat sesuai keinginan banyak yang menyatakan karena usaha yang dilakukan dan lupa bahwa itu pun sesungguhnya takdir. Silakan simak bahasan tentang takdir edisi ini.Semoga tema yang tersaji semakin menguatkan keimanan terhadap takdir. Aamiin




Mutiara Hikmah

“Berbuat baiklah pada orang tua kalian, niscaya anak-anak kalian akan berbuat baik pada kalian. Dan jagalah kehormatan kalian, niscaya istri kalian menjaga kehormatannya.” (HR. Ath-Thabrani).



TAKDIR MEMANG TAK PERNAH SALAH

Ketika Rasulullah SAW duduk bersama para sahabatnya, datang seorang laki-laki yang mereka semua tak mengenalnya. Berparas tampan, berkulit bersih, rambut hitam legam tertata sangat rapi dan berpakaian putih bersih. Tak tampak sedikitpun bekas perjalanan! Dia datang dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas paha Rasulullah SAW.Serta merta, ditanyakannya apa itu Islam, Iman dan Ihsan.
Ketika menerangkan masalah Iman, Rasulullah SAW jelaskan, bahwa Iman adalah beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitab suciNya, para RasulNya, hari kiamat dan beriman bahwa takdir baik dan buruk semua dari Allah SWT. Setelah dengan lancar Rasulullah SAW jabarkan apa yang ditanyakannya, diapun menjawab : Shodaqta! (kamu benar!) Setelah itu dia menghilang, tak ada bekas jejak dan arah mana menuju.Berdirilah Umar dengan keheranan, berkata kepada sang guru, Rasulullah SAW : “Wahai Rasulullah, siapakah dia, datang bertanya, dan setelah dijawab malah membenarkan jawabanmu?” begitu kira-kira protesnya. Rasulullah SAW pun menjawab : “Dia adalah Jibril, yang turun ke dunia liu'allimakum diinakum (untuk mengajarkan Diinul Islam pada kalian). 

Begitu pentingnya tiga masalah ini, tak kalah dengan masalah diin yang lain, sehingga begitu berkesan di benak para sahabat bagaimana Jibril mengajarkan. Tak terbayang kalau kita ada di tengah mereka. Mungkin kita tak akan lupa dengan pelajaran tersebut meskipun mungkin bisa pingsan karena takut dan terkesima. Memang sahabat Rasulullah SAW adalah generasi pilihan yang sudah dipersiapkan secara mental, fisik dan kecerdasannya, sehingga sampailah petunjuk kehidupan ini kepada kita.

Di penghujung penjelasan Rasulullah SAW tentang masalah Iman, disinggung masalah takdir, yang merupakan salah satu sendi iman, atau rukun imam yang keenam. Sehingga bila tidak mengimaninya atau salah dalam memahaminya akan menyebabkan cacat dalam beriman. Pemahaman terhadap takdir bisa menyebabkan seseorang bersemangat dalam menjalani kehidupan atau sebaliknya menyebabkan patah semangat atau bersikap pasrah dan tak berdaya serta menyerahkan segala urusan dan kejadian kepada takdir, bahkan kadang-kadang Allah-lah yang disalahkan. 

Karena perbuatan Allah yang menyebabkan suatu kejadian dan mendorong sebagian manusia memprotes takdir ! Tak pelak bila MUI sempat memprotes lagu Desy Ratnasari yang mengatakan “takdir.. memang kejam…”beberapa tahun lalu. Sesungguhnya memang telah terjadi kerancuan berfikir dalam masyarakat. Seolah-olah ada kekuatan yang ‘memaksa/ menghalangi’ ketika manusia ingin berbuat sesuatu. 

Allah memang telah mengetahui perjalanan nasib seseorang. Apakah ia akan sengsara atau bahagia, menikah atau tidak, mempunyai anak atau tidak, bahkan sampai dia akan masuk ke dalam surga al-jannah ataukah neraka jahannam. ‘Dan Dia mengetahui apa yang di daratan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahui (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (lauhil mahfuz) (QS Al-An’am : 59).



Teropong

Wisuda Akbar Indonesia Menghafal juz 30 di Semarang, Jawa Tengah pada hari Sabtu, 19 Mei 2012, diikuti 8 peserta dari Rumah Tahfidz Al Iklhas. Peserta datang dari berbagai kota di seluruh Indonesia dengan kurang lebih 3.000.000 santri. 

Hadiah hiburannya, 10 hadiah Umroh, 10 Sepeda Motor, dan hadiah Utamanya sebuah Mobil APV. Walaupun peserta dari Al Ikhlas tidak ada yang mendapat hadiah hiburan namun tetap semangat mengikuti acara sampai selesai. Semoga pada Wisuda Akbar selanjutnya santri Al Ikhlas lebih banyak lagi yang ikut untuk wisuda.



Serba Serbi
 "Udang Asam Manis"

BAHAN :
  • 400 gram udang cerbung, buang kepala lalu kerat punggungnya
  • 1/2 buah bawang bombay, dicincang halus- 100 gram atau 1/2 buah paprika hijau dan merah, dipotong kotak 1 cm
  • 50 gram nanas, dipotong kotak 1cm , 
  • 1/2 sendok teh gula pasir
  • 1 sendok teh penyedap rasa asam, 
  • 1 sendok makan saus sambal
  • 1/4 sendok teh penyedap rasa ayam, 
  • 125 ml air
CARA MEMBUAT :
  1. Tumis bawang bombay dan bawang putih sampai harum tambahkan udang sambil diaduk hingga berubah warna.
  2. Tambahkan paprika, nanas, gula dan penyedap rasa asam aduk sampai layu
  3. Masukan saus sambal, campurkan penyedap rasa ayam dan air masak sampai matang. 
Selamat Mencoba


Klik Disini untuk Download Buletin ini. Terima Kasih

0 komentar:

Posting Komentar

 

salafudin. Diberdayakan oleh Blogger.


Copyright © Nurul Ilmi All Rights Reserved •